KEDAHSYATAN
BISNIS ABACA DIMUAT DI MAJALAH SEPUTAR INDONESIA
"RAIH RATUSAN JUTA DARI BISNIS KARTU BACA ANAK"
Berminat gabung Agen Resmi ABACA, Reseller atau order abaca silahkan bisa hubungi
SIAPA yang menyangka seorang ibu rumah tangga mampu menghasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan hanya dari menjual kartu baca anak. Bahkan, saat ini produk tersebut tersebar ke mancanegara seperti Mesir, Qatar, Malaysia, dan Jepang.
Dia adalah Diena Ulfaty yang mulai merintis berbisnis kartu baca anak alias flashcard sejak 2011 lalu. Diena terinspirasi berbisnis setelah sukses mengajari anaknya membaca dengan bantuan flashcard.
Wanita berusia 35 tahun itu akhirnya memproduksi lebih banyak flashcard dengan merek ABACA Flash Card. Kini, dia memiliki flashcard dengan empat seri cerita, seperti cerita Panen Es Krim dan seri cerita Menguak Misteri Rumah Stroberi.
"Tahun ini saya siapkan tiga seri lagi, yaitu Hijaiyyah, Sains, dan Matematika. Namun, karena menjelang pemilu, percetakan menjadi penuh," tutur Diena, Sabtu (4/1/2014).
Dalam setiap lembaran produk flashcard terdapat ejaan huruf. Jika lembaran flashcard itu digabungkan, akan membentuk susunan suku kata berikut dengan gambar. Menurut Diena, pengenalan suku kata dengan flashcard efektif mengenalkan simbol dan huruf kepada balita.
"Hasilnya anak mampu menghafal huruf dalam waktu singkat. Kalau sudah mengenal polanya, mereka akan bisa mencerna materi yang belum diajarkan," ujar mantan peneliti di laboratorium fisika ITB ini.
Ide awal ABACA Flash Card ini terinspirasi putrinya Zakiyah yang tidak suka belajar membaca. Putrinya yang saat itu berusia hampir 4 tahun selalu membuang flash card yang dibelikan dan merobek buku belajar membacanya. Bagi Diena, produk yang ada tidak terpola dengan jelas dan tidak sistematis sehingga membuat anak-anak tidak tertarik. Kalaupun tertarik hanya sesaat, selanjutnya anak-anak merasa bosan dan enggan belajar kembali.
Sebagai seorang ahli sains, dia tidak menyukai sesuatu yang tidak terpola dan tidak sistematis. Menurutnya alam semesta diciptakan secara terpola maka belajar membaca pun harus terpola. Maka, mulailah dia memutar otak untuk membuat sendiri produk yang terpola dan sistematis yang dapat membantu putrinya tersebut belajar memahami huruf dan suku kata. Jika sudah memahami huruf dan suku kata maka akan lebih mudah bagi anak untuk membaca. Maka terciptalah ABACA Flash Card ini. Dilengkapi game panen es krim putrinya dapat menghafal semua suku kata berawalan a dalam tempo yang sangat singkat, yaitu 30 menit.
Melihat putrinya menyukai ABACA Flash Card dan telah dapat membaca dalam waktu kurang lebih 1 bulan, Diena memberitahukannya kepada teman-teman di Facebook. Mereka antusias dan satu persatu memesan. Saat itu masih menggunakan sistem made by order karena keterbatasan modal. Bulan pertama dia mendapatkan pesanan sebanyak 50 paket, lalu meningkat 100 persen di bulan kedua. Selanjutnya, meningkat sangat drastis seiring banyaknya testimoni positif terhadap produknya ini.
"Testimoni dari klien merupakan promosi paling jitu yang membuat laris. Selain itu sistem bonus penjualan Rp500 ribu hingga Rp2 juta membuat para agen semakin semangat," ujar wanita yang berdomisili di Bandung ini.
Memasarkannya secara online, dia kerap menerima puluhan ribu pesanan paket ABACA Flash Card, baik seri 1 ataupun seri 2 dari seluruh Tanah Air. Karena sudah tersedia modal lebih dari cukup, maka dia mengemas ABACA Flash Card lebih menarik. Sebuah map difungsikan sebagai tas sehingga jauh lebih rapi dan menarik. Apalagi ada gambar es krim dan strawberi pada sampulnya."Saya juga mengadaptasi dengan permainan game online sehingga anak anak bisa bermain bersama orangtuanya," ujar Diena.
Kini, banyak sekolah-sekolah TK menggunakan produknya. Selain itu, ABACA Flash Card sudah mampu menembus pasar mancanegara, seperti Mesir, Malaysia, Jepang, dan Qatar. Produk ini digemari WNI yang bekerja di luar negeri karena mereka kesulitan mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya.
Bahkan di Qatar, Diena memiliki dua agen, dengan pemesanan minimal 50 paket dalam sebulan. Saat ini, setidaknya sudah terdapat empat distributor dengan ratusan agen. Sementara reseller yang mengantre sudah diarahkan ke agen. Sehingga penjualan akhirnya tersebar ke seluruh Indonesia hingga mancanegara.
Dia menyebutkan seorang distributornya Dini Edusmartkidzbahkan bisa meraup pendapatan hingga Rp10 juta dalam sebulan. "Kebetulan dia seorang trainer pendidikan sehingga mudah dalam memasarkan produk ini. Bahkan, tahun ini dia akan ke Korea dan pasti akan memperluas pasarnya di sana," terangnya.
Produk ini juga membuka lapangan kerja, seperti menjadi pengajar les anak anak. Salah seorang agennya di Kalimantan menjadi pengajar les anak anak dengan metode ABACA Flash Card. Penghasilannya bisa mencapai Rp20 juta dalam sebulan. Sementara untuk ibu-ibu di sekitar rumahnya direkrut untuk menjadi penyusun kartu. "Mereka menjadi lebih produktif dan mempunyai penghasilan sendiri," ujar Diena.
Seiring meningkatnya pesanan, Diena saat ini bisa menjual hingga 1.000 paket flashcard per bulan dengan omzet Rp45 juta. Kini, rata-rata penjualan dalam sehari di kisaran 400-500 paket. Namun, dalam beberapa bulan tertentu penjualan bisa mencapai 1.000 paket sehari. Sementara untuk omzetnya mampu mendekati angka Rp200 juta dalam sebulan.
Bisa dibuka link nya disini..
http://ekbis.sindonews.com/read/2014/01/04/36/823591/raih-ratusan-juta-dari-bisnis-kartu-baca-anak
"RAIH RATUSAN JUTA DARI BISNIS KARTU BACA ANAK"
Berminat gabung Agen Resmi ABACA, Reseller atau order abaca silahkan bisa hubungi
Nur Rochmawati
Perum Kalingga Blok C 44 Jembangan Kaling Tasikmadu
Karanganyar Jawa Tengah 57761
HP. 085647369532
Pin
754F5E30SIAPA yang menyangka seorang ibu rumah tangga mampu menghasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan hanya dari menjual kartu baca anak. Bahkan, saat ini produk tersebut tersebar ke mancanegara seperti Mesir, Qatar, Malaysia, dan Jepang.
Dia adalah Diena Ulfaty yang mulai merintis berbisnis kartu baca anak alias flashcard sejak 2011 lalu. Diena terinspirasi berbisnis setelah sukses mengajari anaknya membaca dengan bantuan flashcard.
Wanita berusia 35 tahun itu akhirnya memproduksi lebih banyak flashcard dengan merek ABACA Flash Card. Kini, dia memiliki flashcard dengan empat seri cerita, seperti cerita Panen Es Krim dan seri cerita Menguak Misteri Rumah Stroberi.
"Tahun ini saya siapkan tiga seri lagi, yaitu Hijaiyyah, Sains, dan Matematika. Namun, karena menjelang pemilu, percetakan menjadi penuh," tutur Diena, Sabtu (4/1/2014).
Dalam setiap lembaran produk flashcard terdapat ejaan huruf. Jika lembaran flashcard itu digabungkan, akan membentuk susunan suku kata berikut dengan gambar. Menurut Diena, pengenalan suku kata dengan flashcard efektif mengenalkan simbol dan huruf kepada balita.
"Hasilnya anak mampu menghafal huruf dalam waktu singkat. Kalau sudah mengenal polanya, mereka akan bisa mencerna materi yang belum diajarkan," ujar mantan peneliti di laboratorium fisika ITB ini.
Ide awal ABACA Flash Card ini terinspirasi putrinya Zakiyah yang tidak suka belajar membaca. Putrinya yang saat itu berusia hampir 4 tahun selalu membuang flash card yang dibelikan dan merobek buku belajar membacanya. Bagi Diena, produk yang ada tidak terpola dengan jelas dan tidak sistematis sehingga membuat anak-anak tidak tertarik. Kalaupun tertarik hanya sesaat, selanjutnya anak-anak merasa bosan dan enggan belajar kembali.
Sebagai seorang ahli sains, dia tidak menyukai sesuatu yang tidak terpola dan tidak sistematis. Menurutnya alam semesta diciptakan secara terpola maka belajar membaca pun harus terpola. Maka, mulailah dia memutar otak untuk membuat sendiri produk yang terpola dan sistematis yang dapat membantu putrinya tersebut belajar memahami huruf dan suku kata. Jika sudah memahami huruf dan suku kata maka akan lebih mudah bagi anak untuk membaca. Maka terciptalah ABACA Flash Card ini. Dilengkapi game panen es krim putrinya dapat menghafal semua suku kata berawalan a dalam tempo yang sangat singkat, yaitu 30 menit.
Melihat putrinya menyukai ABACA Flash Card dan telah dapat membaca dalam waktu kurang lebih 1 bulan, Diena memberitahukannya kepada teman-teman di Facebook. Mereka antusias dan satu persatu memesan. Saat itu masih menggunakan sistem made by order karena keterbatasan modal. Bulan pertama dia mendapatkan pesanan sebanyak 50 paket, lalu meningkat 100 persen di bulan kedua. Selanjutnya, meningkat sangat drastis seiring banyaknya testimoni positif terhadap produknya ini.
"Testimoni dari klien merupakan promosi paling jitu yang membuat laris. Selain itu sistem bonus penjualan Rp500 ribu hingga Rp2 juta membuat para agen semakin semangat," ujar wanita yang berdomisili di Bandung ini.
Memasarkannya secara online, dia kerap menerima puluhan ribu pesanan paket ABACA Flash Card, baik seri 1 ataupun seri 2 dari seluruh Tanah Air. Karena sudah tersedia modal lebih dari cukup, maka dia mengemas ABACA Flash Card lebih menarik. Sebuah map difungsikan sebagai tas sehingga jauh lebih rapi dan menarik. Apalagi ada gambar es krim dan strawberi pada sampulnya."Saya juga mengadaptasi dengan permainan game online sehingga anak anak bisa bermain bersama orangtuanya," ujar Diena.
Kini, banyak sekolah-sekolah TK menggunakan produknya. Selain itu, ABACA Flash Card sudah mampu menembus pasar mancanegara, seperti Mesir, Malaysia, Jepang, dan Qatar. Produk ini digemari WNI yang bekerja di luar negeri karena mereka kesulitan mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya.
Bahkan di Qatar, Diena memiliki dua agen, dengan pemesanan minimal 50 paket dalam sebulan. Saat ini, setidaknya sudah terdapat empat distributor dengan ratusan agen. Sementara reseller yang mengantre sudah diarahkan ke agen. Sehingga penjualan akhirnya tersebar ke seluruh Indonesia hingga mancanegara.
Dia menyebutkan seorang distributornya Dini Edusmartkidzbahkan bisa meraup pendapatan hingga Rp10 juta dalam sebulan. "Kebetulan dia seorang trainer pendidikan sehingga mudah dalam memasarkan produk ini. Bahkan, tahun ini dia akan ke Korea dan pasti akan memperluas pasarnya di sana," terangnya.
Produk ini juga membuka lapangan kerja, seperti menjadi pengajar les anak anak. Salah seorang agennya di Kalimantan menjadi pengajar les anak anak dengan metode ABACA Flash Card. Penghasilannya bisa mencapai Rp20 juta dalam sebulan. Sementara untuk ibu-ibu di sekitar rumahnya direkrut untuk menjadi penyusun kartu. "Mereka menjadi lebih produktif dan mempunyai penghasilan sendiri," ujar Diena.
Seiring meningkatnya pesanan, Diena saat ini bisa menjual hingga 1.000 paket flashcard per bulan dengan omzet Rp45 juta. Kini, rata-rata penjualan dalam sehari di kisaran 400-500 paket. Namun, dalam beberapa bulan tertentu penjualan bisa mencapai 1.000 paket sehari. Sementara untuk omzetnya mampu mendekati angka Rp200 juta dalam sebulan.
Bisa dibuka link nya disini..
http://ekbis.sindonews.com/read/2014/01/04/36/823591/raih-ratusan-juta-dari-bisnis-kartu-baca-anak

Komentar
Posting Komentar